Sabtu, 20 Agustus 2011

STRUKTUR FILSAFAT



Pada pokoknya struktur filsafat berkisar pada tiga cabang:

  • Teori Pengetahuan
  • Teori Hakikat
  • Teori Nilai

Tiga cabang ini melahirkan cabang-cabang baru yang merupakan anak-anak cabang dari ketiga cabang tadi.

1. TEORI PENGETAHUAN

Cabang filsafat yang membahas norma-norma atau teori tentang cara mendapatkan pengetahuan dan membicarakan pula tentang bagaimana cara mengatur pengetahuan itu sehingga menjadi pengetahuan yang benardan berarti. posisi terpenting dan terutama dari teori pengetahuan adalah membicarakan apa sebenarnya hakikat pengetahuan itu, cara berpikir dan hukum berpikir mana yang harus dipergunakan agar kita mendapat pemikiran yang kemungkinan benarnya paling besar.

Ada dua cabang yang akan membahasnya:
  • Epistemologi 
  • Logika

1.1. EPISTEMOLOGI

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme yang berarti knowledge atau pengetahuan dan logy berarti teori. Epistemologi dapat diartikan sebagai teori pengetahuan, atau filsafat ilmu. Terdapat empat persoalan pokok dalam bidang ini:

  • - Apa pengetahuan itu?
  • - Apa sumber-sumber pengetahuan itu?
  • - Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahuinya?
  • - Apakah pengetahuan kita itu benar(valid)?


Definisi pengetahuan

Pada dasarnya pengetahuan mempunyai tiga kriteria:
  • Adanya suatu sistem gagasan dalam pikiran.
  • persesuaian antara gagasan itu dengan benda-benda sebenarnya.
  • adanya keyakinan tentang persesuaian itu.

Persoalan berikutnya yaitu tentang sumber pengetahuan manusia. Louis Q. Kattsof  mengatakan bahwa sumber pengetahuan ada lima macam, yaitu:

  1. Empiris yang melahirka aliran empirisme
  2. Rasio yang melahirkan aliran rasionalisme
  3. Fenomana yang melahirka aliran fenomenologi/fenomenalisme
  4. Intuisi yang melahirkan aliran intuisionisme
  5. Metode ilmiah yang menggabungkan antara Rasionalisme dan empirisme

1.1.1. Empirisme

Empirime mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dari pengalaman. John Locke  bapak empirisme dari Britania mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa).
Didalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita peroleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana itu.

Ia memandang bahwa akal sebagai jenis tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti bahwa semua pengetahuan kita betapa pun rumitnya dapat dilacak kembali sampai pada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan atom-atom yang menyusun objek-objek material. apa yangtidak dapat atau tidak perlu dilacak kembalisecara demikian itu bukanlah pengetahuan atausetidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal faktual.

1.1.2. Rasionalisme

Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman dipandang sebagai jenis perangsang pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak didalam ide kita dan bukannya di dalam diri barang itu sendiri.

Descartes, bapak rasionalisme menyatakan ia yakin kebenaran-kebenaran semacam itu ada dan bahwa kebenaran-kebenaran tersebut dikenal dengan cahaya yang terang dari akal budi sebagai hal-hal yang tidak diragukan. Dengan demikian akal budi dipahaminya sebagai jenis perantara khusus untuk mengenal kebenaran dan sebagai suatu teknik deduktif untuk menemukan kebenaran-kebenaran; artinya dengan melakukan penalaran.

1.1.3. Fenomenalisme

Menurut uraian Emmanuel Kant , barang sesuatu bagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman, dan disusun secara sistematisdengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mengetahui tentang barang sesuatu seperti keadaan sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak pada kita, artinya pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).

Bagi Kant, para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.

1.1.4. Intuisionisme

Menurut Henry Bergson, pengetahuan diskursif diperoleh melalui penggunaan simbol-simbol yang mencoba mengatakan kepada kita mengenai sesuatu. ini tergantung pada pemikiran dari suatu sudut pandangan atau kerangka acuan, dan pelukisan kejadian yang berhubungan dengan sudut pandangan atau kerangka acuan, dan pelukisan kejadian yang berhubungan dengan sudut pandangan serta kerangka acuan tersebut.

Dengan cara demikian kita memperoleh pengetahuan mengenai suatu segi atau bagian dari kejadian tadi, tetapi tidak mengenai kejadian itu seluruhnya. Hanya dengan menggunakan intuisi kita dapat memperoleh pengetahuan tentang kejadian itu suatu kejadian yang langsung, yang mutlak dan bukannya pengetahuan yang nisbi atau yang ada perantara.

1.1.5. Metode Ilmiah

Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut:
  1. Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran)
  2. Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran)
  3. Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)
  4. Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)
Setiap langkah diilustrasikan dengan contoh dari penemuan struktur DNA:
  1. DNA/karakterisasi
  2. DNA/hipotesis
  3. DNA/prediksi
  4. DNA/eksperimen
Contoh tersebut dilanjutkan pada tahap "Evaluasi dan pengulangan", yaitu DNA/pengulangan.

1.2 LOGIKA

Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat.
Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.
Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.

Dasar-dasar Logika 

Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal.
Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif:

Penalaran deduktif—kadang disebut logika deduktif—adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.

Penalaran induktif—kadang disebut logika induktif—adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.

Macam-macam Logika
  • Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir.
  • Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi. Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.

2. TEORI HAKIKAT

Hakikat artinya keadaan yang sebenarnya. Hakikat sebenarnya adalah keadaan sebenarnya dari sesuatu itu. Teori hakikat merupakan cabang filsafat yang membicarakan hakikat sesuatu.

Cabang teori hakikat:

  • Ontologi
  • Kosmologi
  • Theodecia
2.1. ONTOLOGI

Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat dari sesuatu yang ada. Pertanyaan utama dalam ontologi adalah "Apa sebenarnya hakikat dari sesuatu yang ada?". Ada empat macam aliran filsafat yang mencoba memberikan jawaban atas persoalan tersebut:

1. Materialisme
2. Idealisme
3. Dualisme
4. Agnoticisme

2.1.1. Materialisme

Materialisme mengatakan bahwa materi itu ada sebelum jiwa, dan dunia adalah material yang pertama, sedangkan pemikiran tentang dunia ini adalah nomor dua.

Materialisme beranggapan bahwa hakikat sesuatu itu ada adalah sesuatu itu sendiri.

2.1.2. Idealisme

Idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari ide-ide, pikiran -pikiran, akal atau jiwa dan bukan benda material dan kekuatan. Idealisme menekankan ide sebagai hal yang lebih dahulu dari pada materi.

Idealisme menekankan sesuatu yang ada diukur dari ide atau persepsi yang dari apa yang dirasakan oleh jiwa dan adanya kesesuaian dengan putusan-putusan lain yang telah diterima sebagai yang benar.

2.1.3. Dualisme

Dualisme adalah aliran filsafat yang mencoba memadukan dua paham yang saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme. Dualisme mengatakan bahwa materi maupun ide mempunyai hakikat yang sama.

Dualisme beranggapan adanya keselarasan antara ide/ruh dengan materi, namun dualisme mempunyai pertanyaan besar yaitu "bagaimana bisa terjadi keselarasan antara ide/ruh dengan materi?".

2.1.4. Agnoticisme

Agnoticisme beranggapan bahwa manusia tak mungkin mengetahui hakikat sesuatu dibalik kenyataan. Sebab menurut paham ini kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu tentang hakikat dari sesuatu yang ada, baik oleh indra maupun pikirannya.

Aliran ini mempunyai masalah yaitu tentang siapa sebenarnya yang bisa mengetahui hakikat sesuatu yang ada? aliran ini tidak menjelaskannya.


2.2. KOSMOLOGI

Kosmologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek.

Alam fisik atau jagat raya (cosmos) merupakan objek penyelidikan ilmu-ilmu alam, khususnya fisika. Ini berarti bahwa kosmologi adalah penyelidikan tentang jagat raya fisik, terdiri dari dua bagian:

  • Penyelidikan filsafat mengenai istilah-istilah pokok yang terdapat dalam fisika, seperti ruang dan waktu.
  • Pra-anggapan yang terdapat dalam fisika sebagai ilmu tentang jagat raya.
Prinsip kosmologi tidaklah benar-benar sebuah prisip, melainkan asumsi yang digunakan untuk membatasi dari begitu banyaknya teori kosmologi yang mungkin. Prinsip ini diturunkan dari pengamatan alam semesta dalam skala besar, dan menyatakan bahwa pada skala yang besar, alam semesta adalah homogen dan isotropik.

2.3. ANTROPOLOGI

Antropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti "wacana" (dalam pengertian "bernalar", "berakal"). Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.

Menurut pandangan ini manusia adalah bagian dari alam yang dipandang sebagaikesatuan totalitas. Hakikat manusia adalh jasmani itu sendiri bukan ruhnya. Sebab ruh hanya ada jika tempat yang ditumpanginya masih utuh, sebaliknya ruh akan hilang apabila tempat yang ditumpanginya/jasmaninya telah hancur/mati.

2.4. THEODECIA

Cabang filsafat theodecia atau teologi membicarakan tentang dasar-dasar ketuhanan dan hubungan manusia dengan Tuhan berdasarkan logika atau pendapat akal manusia.
Theodecia tidak membicarakan Tuhan dari segi agama. Dalam theodecia terdapat sejumlah aliran:

2.4.1. Theisme

Paham yang mempercayai bahwa Tuhan merupakan pencipta alam ini. Tuhan adalah sebab yang ada dialam ini. Segala-gala bersandar pada sebab ini. Menurut paham ini alam beredar berdasarkan kehendak Tuhan.

2.4.2. Monotheisme

Monotheisme adalah kepercayaan bahwa Tuhan adalah satu/tunggal dan berkuasa penuh atas segala sesuatu.

2.4.3. Trinitheisme

Trinitheisme mengajarkan bahwa Tuhan itu ada tiga. Ketiga Tuhan mempunyai fungsi dan tugas yang berbeda.
Paham ini merupakan lanjutan dari polytheisme yang menganggap banyak Tuhan. Kemudian dibatasi sampai tiga Tuhan saja.

2.4.4. Polytheisme

Polytheisme menganggap bahwa Tuhan atau Dewa itu banyak. Pada mulanya Tuhan-Tuhan atau Dewa-Dewa mempunyai kedudukan yang sama, akantetapi karena ada beberapa hal, lambat laun beberapanya ada yang memiliki kedudukanyang lebih tinggi.

2.4.5. Pantheisme

Paham yang menganggap bahwa alam ini adalah Tuhan. Semua yang ada dan keseluruhannya adalah Tuhan.Benda yang dapat dilihat oleh panca indera adalah bagian dari Tuhan.

2.4.6. Atheisme

Paham yang tidak mempercayai adanya Tuhan.

2.4.7. Agnostisisme

Paham ini berada di tengah-tengah antara keberadaan Tuhan dan ketidak beradaan Tuhan. Menurut paham ini manusia tak akan sanggup mengetahui pengetahuan tentang Tuhan. Paham ini tidak menafikan Tuhan dan juga tidak mengatakan bahwa Tuhan itu ada.


3. TEORI NILAI

3.1. ETIKA

Etika adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain.Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.

Jenis etika:

3.1.1. Etika Filosofis

Etika filosofis secara harfiah dapat dikatakan sebagai etika yang berasal dari kegiatan berfilsafat atau berpikir, yang dilakukan oleh manusia. Karena itu, etika sebenarnya adalah bagian dari filsafat; etika lahir dari filsafat.[rujukan?]
Etika termasuk dalam filsafat, karena itu berbicara etika tidak dapat dilepaskan dari filsafat.[rujukan?] Karena itu, bila ingin mengetahui unsur-unsur etika maka kita harus bertanya juga mengenai unsur-unsur filsafat. Berikut akan dijelaskan dua sifat etika:

Non-empiris

Filsafat digolongkan sebagai ilmu non-empiris. Ilmu empiris adalah ilmu yang didasarkan pada fakta atau yang kongkret. Namun filsafat tidaklah demikian, filsafat berusaha melampaui yang kongkret dengan seolah-olah menanyakan apa di balik gejala-gejala kongkret. Demikian pula dengan etika. Etika tidak hanya berhenti pada apa yang kongkret yang secara faktual dilakukan, tetapi bertanya tentang apa yang seharusnya dilakukan atau tidak boleh dilakukan.

Praktis

Cabang-cabang filsafat berbicara mengenai sesuatu “yang ada”. Misalnya filsafat hukum mempelajari apa itu hukum. Akan tetapi etika tidak terbatas pada itu, melainkan bertanya tentang “apa yang harus dilakukan”. Dengan demikian etika sebagai cabang filsafat bersifat praktis karena langsung berhubungan dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan manusia. Tetapi ingat bahwa etika bukan praktis dalam arti menyajikan resep-resep siap pakai. Etika tidak bersifat teknis melainkan reflektif. Maksudnya etika hanya menganalisis tema-tema pokok seperti hati nurani, kebebasan, hak dan kewajiban, dsb, sambil melihat teori-teori etika masa lalu untuk menyelidiki kekuatan dan kelemahannya. Diharapakan kita mampu menyusun sendiri argumentasi yang tahan uji.

3.1.2 Etika Teologis

Ada dua hal yang perlu diingat berkaitan dengan etika teologis. Pertama, etika teologis bukan hanya milik agama tertentu, melainkan setiap agama dapat memiliki etika teologisnya masing-masing. Kedua, etika teologis merupakan bagian dari etika secara umum, karena itu banyak unsur-unsur di dalamnya yang terdapat dalam etika secara umum, dan dapat dimengerti setelah memahami etika secara umum.

Secara umum, etika teologis dapat didefinisikan sebagai etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi teologis.Definisi tersebut menjadi kriteria pembeda antara etika filosofis dan etika teologis. Di dalam etika Kristen, misalnya, etika teologis adalah etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi tentang Allah atau Yang Ilahi, serta memandang kesusilaan bersumber dari dalam kepercayaan terhadap Allah atau Yang Ilahi. Karena itu, etika teologis disebut juga oleh Jongeneel sebagai etika transenden dan etika teosentris. Etika teologis Kristen memiliki objek yang sama dengan etika secara umum, yaitu tingkah laku manusia. Akan tetapi, tujuan yang hendak dicapainya sedikit berbeda, yaitu mencari apa yang seharusnya dilakukan manusia, dalam hal baik atau buruk, sesuai dengan kehendak Allah.

Setiap agama dapat memiliki etika teologisnya yang unik berdasarkan apa yang diyakini dan menjadi sistem nilai-nilai yang dianutnya. Dalam hal ini, antara agama yang satu dengan yang lain dapat memiliki perbedaan di dalam merumuskan etika teologisnya.

3.1.3. Relasi Etika Filosofis dan Etika Teologis

Terdapat perdebatan mengenai posisi etika filosofis dan etika teologis di dalam ranah etika.  Sepanjang sejarah pertemuan antara kedua etika ini, ada tiga jawaban menonjol yang dikemukakan mengenai pertanyaan di atas, yaitu:
  • Revisionisme
Tanggapan ini berasal dari Augustinus (354-430) yang menyatakan bahwa etika teologis bertugas untuk merevisi, yaitu mengoreksi dan memperbaiki etika filosofis.
  • Sintesis
Jawaban ini dikemukakan oleh Thomas Aquinas (1225-1274) yang menyintesiskan etika filosofis dan etika teologis sedemikian rupa, hingga kedua jenis etika ini, dengan mempertahankan identitas masing-masing, menjadi suatu entitas baru. Hasilnya adalah etika filosofis menjadi lapisan bawah yang bersifat umum, sedangkan etika teologis menjadi lapisan atas yang bersifat khusus.
  • Diaparalelisme
Jawaban ini diberikan oleh F.E.D. Schleiermacher (1768-1834) yang menganggap etika teologis dan etika filosofis sebagai gejala-gejala yang sejajar. Hal tersebut dapat diumpamakan seperti sepasang rel kereta api yang sejajar.
Mengenai pandangan-pandangan di atas, ada beberapa keberatan. Mengenai pandangan Augustinus, dapat dilihat dengan jelas bahwa etika filosofis tidak dihormati setingkat dengan etika teologis. Terhadap pandangan Thomas Aquinas, kritik yang dilancarkan juga sama yaitu belum dihormatinya etika filosofis yang setara dengan etika teologis, walaupun kedudukan etika filosofis telah diperkuat. Terakhir, terhadap pandangan Schleiermacher, diberikan kritik bahwa meskipun keduanya telah dianggap setingkat namun belum ada pertemuan di antara mereka.
Ada pendapat lain yang menyatakan perlunya suatu hubungan yang dialogis antara keduanya. Dengan hubungan dialogis ini maka relasi keduanya dapat terjalin dan bukan hanya saling menatap dari dua horizon yang paralel saja. Selanjutnya diharapkan dari hubungan yang dialogis ini dapat dicapai suatu tujuan bersama yang mulia, yaitu membantu manusia dalam bagaimana ia seharusnya hidup.

3.2. ESTETIKA

Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.

Esetetika berasal dari Bahasa Yunani, αισθητική, dibaca aisthetike. Pertama kali digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan.
Pada masa kini estetika bisa berarti tiga hal, yaitu:
  1. Studi mengenai fenomena estetis
  2. Studi mengenai fenomena persepsi
  3. Studi mengenai seni sebagai hasil pengalaman estetis
Meskipun awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam membentuk suatu karya, namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut memengaruhi penilaian terhadap keindahan. Misalnya pada masa romantisme di Perancis, keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah keagungan. Pada masa realisme, keindahan berarti kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya. Pada masa maraknya de Stijl di Belanda, keindahan berarti kemampuan mengkomposisikan warna dan ruang dan kemampuan mengabstraksi benda.

Perkembangan lebih lanjut menyadarkan bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide yang dimunculkan oleh pembuat karya. Karena itulah selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu the beauty, suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar keindahan dan the ugly, suatu karya yang sama sekali tidak memenuhi standar keindahan dan oleh masyarakat banyak biasanya dinilai buruk, namun jika dipandang dari banyak hal ternyata memperlihatkan keindahan.

Keindahan seharusnya sudah dinilai begitu karya seni pertama kali dibuat. Namun rumusan keindahan pertama kali yang terdokumentasi adalah oleh filsuf Plato yang menentukan keindahan dari proporsi, keharmonisan, dan kesatuan. Sementara Aristoteles menilai keindahan datang dari aturan-aturan, kesimetrisan, dan keberadaan.
keindahan seharusnya memenuhi banyak aspek. aspek jasmani dan aspak rohani.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar